Senin, 20/05/2019 03:21 WIB
  • Umum

Pengusaha Truk Desak Ongkos Trans Jawa Turun 20 Persen

Kamis, 07/02/2019 09:50 WIB
Pengusaha Truk Desak Ongkos  Trans Jawa Turun 20 Persen Ilustrasi Truk di Jalan Tol


JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menyatakan keinginannya agar tarif tol Trans Jawa dari Jakarta menuju Surabaya (Jawa Timur) untuk kendaraan golongan V seperti truk bisa turun sekitar 20 persen.

Wakil Ketua Umum Aptrindo Nofrisel di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/2), mengatakan penerapan tarif baru tol Trans Jawa ini berdampak signifikan terhadap biaya yang harus ditanggung pengusaha. Untuk kendaraan golongan V (truk dengan lima gandar atau lebih), tarif tol yang harus dibayar Jakarta-Surabaya sebesar Rp1.382.500.

"Biaya untuk jalur darat itu berkontribusi 39 persen dari total logistik. Kalau bisa menurunkan atau menaikkan tarif yang berimplikasi pada jalur darat, pengaruhnya akan besar sekali. Harapan kita tarif ini bisa turun sekitar 20 persen," kata Nofrisel seusai breakfast meeting di Kemenko Perekonomian.

Waketum Aptrindo itu menjelaskan bahwa sebelum tarif tol Trans Jawa ini ditetapkan, biaya logistik untuk jalur darat hanya sekitar Rp500.000. Apalagi, komponen biaya logistik melalui jalur darat berkontribusi 39 persen dari keseluruhan biaya.

Selain itu, jalur darat menjadi biaya logistik termahal kedua setelah menggunakan jasa angkut udara, sedangkan yang lebih murah dengan kereta api dan kapal laut. Menurut dia, jika ketersediaan barang berkurang dan pasokan terbatas, ongkos logistik jalur darat menjadi sangat mahal.

Nofrisel mengungkapkan bahwa sebagian besar truk menggunakan jalur Pantura daripada lewat karena selain lebih murah, juga memudahkan untuk pengiriman barang tujuan ke Solo, Semarang dan Surabaya.

Ia berharap agar tarif tol bisa ditinjau kembali dan bisa turun sekitar 20 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun sudah menampung aspirasi dari para pelaku usaha.

"Beliau menampung, tinggal mengakomodasi. Kami menunggu karena setelah ini ada pertemuan dengan tim kecil dari sistem logistik nasional untk membahas hal itu," katanya.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan penerapan tarif ini membuat penyedia jasa logistik terbebani karena kemampuan daya beli pelanggan terbatas, sehingga tidak bisa menaikkan harga secepatnya.

Ia berharap agar tarif ruas jalan tol yang sudah lama dibangun, seperti Jakarta-Cikampek dan Jagorawi diturunkan, bahkan hingga 50 persen untuk golongan truk.

"Kami tidak bisa menaikkan harga seenak-enaknya karena harga jasa kepada customer sudah ada yang namanya kontrak logistik. Yang boleh mengubah harga adalah BBM yang naik, atau UMR yang naik," kata Mahendra.