Sabtu, 20/04/2019 19:11 WIB
  • Keuangan

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global ke Level Terendah

Rabu, 10/04/2019 10:13 WIB
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global ke Level Terendah International Monetary Fund (IMF)

Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ke level terendah sejak krisis keuangan.

IMF menurunkan perkiraan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi 3,3 persen dari tingkat sebelumnya 3,5 persen dalam World Economic Outlook (WEO) terbarunya.

Dilansir dari Al Jazeera, ini adalah ketiga kalinya dalam enam bulan dana itu merevisi prospeknya ke bawah.

IMF memproyeksikan penurunan pertumbuhan ekonomi l tahun ini untuk 70 persen dari ekonomi global.

"Ini adalah saat yang sulit," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath pada konferensi pers di Washington.

WEO mencatat ekspansi 3,3 persen masih masuk akal, tetapi memperingatkan prospek bagi banyak negara masih menantang mengingat potensi sengketa perdagangan memanas.

IMF juga memperingatkan pertumbuhan di China "mungkin akan mengejutkan pada sisi negatifnya" dan bahwa risiko dari Brexit "tetap tinggi".

"Sangat penting bahwa pembuat kebijakan tidak membahayakan dan bekerja sama," kata Gopinath.

Terlepas dari perkiraan yang lebih rendah untuk 2019, IMF memperkirakan ekonomi global akan meningkat pada paruh kedua tahun ini, berkat kebijakan yang lebih ramah pertumbuhan dari bank sentral.

Itu meninggalkan perkiraan untuk 2020 tidak berubah pada 3,6 persen yang didasarkan pada rebound di Argentina dan Turki, bersama dengan peningkatan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang lainnya.

Di luar tahun 2020, IMF memperkirakan bahwa pertumbuhan global akan stabil sekitar 3,5 persen, terutama didukung oleh pertumbuhan di Cina dan India.

Para pembuat kebijakan dari seluruh dunia berkumpul di Washington, DC minggu ini untuk pertemuan dua tahunan IMF dan Bank Dunia.

"Sangat penting bahwa kesalahan kebijakan yang mahal dihindari," kata IMF menekankan dalam WEO terbaru ini mendesak kerja sama yang lebih besar di antara negara-negara.

"Ada kebutuhan untuk kerja sama multilateral yang lebih besar untuk menyelesaikan konflik perdagangan, untuk mengatasi perubahan iklim dan risiko dari keamanan siber, dan untuk meningkatkan efektivitas perpajakan internasional," kata laporan itu.