Sabtu, 20/04/2019 19:42 WIB
  • Umum

Melesat Ekspor Komoditas Pertanian di Perbatasan Skouw

Senin, 15/04/2019 06:09 WIB
Melesat Ekspor Komoditas Pertanian di Perbatasan Skouw Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian, Ali Jamil, saat melepas ekspor 1,75 ton produk turunan gandum berupa terigu asal Jayapura ke Papua Nugini, di Skouw, Jayapura, Minggu (14/4).

Skouw, Etoday.com - Semenjak kebijakan Presiden Jokowi-JK menjadikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) menjadi beranda negara di tahun 2017 yang lalu, aktifitas ekonomi dilokasi ini terus meningkat.

Didukung dengan bangunan dan fasilitas serta sistem yang lebih modern, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, di Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua, kini menjadi pintu gerbang eksportasi khususnya bagi barang-barang kebutuhan pokok, termasuk produk pertanian.

"Sebagai komoditas wajib periksa karantina, kami siap melakukan percepatan layanan karantina di setiap batas negara, termasuk Skouw, " kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian saat melepas ekspor 1,75 ton produk turunan gandum berupa terigu asal Jayapura ke Papua Nugini, di Skouw, Jayapura, Minggu (14/4).

Jamil yang pada saat bersamaan melakukan inspeksi layanan karantina di PLBN ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada jajaran keamanan dan kepabean yang telah bersama-sama melakukan tugas perlindungan dan pengawasan di batas negeri.

Ia juga berharap kedepan kerjasama ini terus ditingkatkan untuk pengendalian upaya penyelundupan.

Dan yang lebih penting lagi, kata Jamil bahwa sesuai arahan Presiden melalui Menteri Pertanian guna meningkatkan eksportasi produk pertanian guna mendongkrak neraca perdagangan.

"Papua tanah yang kaya, mari sama-sama kita optimalkan guna memberi nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Jamil.

Semenjak dibangunnya pasar modern di perbatasan serta kebijakan pemerintah provinsi Papua, kini menjadikan PLBN sebagai pusat ekonomi baru.

"Tentunya peluang ini harus dimanfaatkan sektor pertanian dengan lakukan upaya peningkatan produktifitas sekaligus membuka akses pasar dengan harmonisasi peraturan dengan negara tetangga," kata Jamil.

Kepala Karantina Jayapura, Muklis Natsir menyampaikan berdasarkan data otomasi Barantan, IQFAST terdapat enam komoditas unggulan diwilayah kerjanya yakn masing-masing: vanili, biji kopi, cangkang sawit, CPO, biji kakao dan kopra.

Selama trisemester awal tahun 2019, tercatat lalu lintas antar area komoditas tersebut adalah Vanili (eks impor PNG) sebanyak 58,8 ton tujuan Bali, Jogjakarta dan Surabaya senilai Rp35,5 miliar.

Biji kopi sebanyak 2,1 ton tujuan Bali, Surabaya, dan Jogjakarta senilai Rp698,2 juta. Cangkang sawi sebanyaj 518,5 ton tujuan Medan, Kalimantan dan Surabaya senilai Rp518,5 juta.

CPO (minyak Sawit) sebanyak 6,1 ton tujuan Surabaya, Medan dan Kalimantan senilai Rp. 33,6 milyar. Biji Kakao sebanyak 75,9 ton tujuan Surabaya, Medan dan Kalimantan senilai Rp2,2 miliar. Kopra senilai 33,7 ton tujuan Surabaya, Medan dan Kalimantan senilai Rp101,1 jura.

"Dengan potensi yang besar ini, saya percaya dapat dioptimalkan dengan kerjasama kolaboratif pusat dan daerah," pungkas Jamil.