Sabtu, 24/08/2019 20:35 WIB
  • Umum

Pengusaha UEA Dibayar untuk Memata Kebijakan Trump

Rabu, 12/06/2019 07:54 WIB
Pengusaha UEA Dibayar untuk Memata Kebijakan Trump Sheikh Mohammed bin Zayed dikabarkan dekat dengan mata-mata UEA. (Foto: Liewig Christian / Getty Images)

Abu Dhabi, Etoday.com - Seorang pengusaha dari Uni Emirat Arab (UEA) dibayar untuk memata-matai dan memberika informasi ihwal kebijakan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.

Demikian The Intercept melaporkan pada mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya dan dokumen resmi pada Senin (10/6).

Pengusah UEA, Rashid al-Malik menerima puluhan ribu dolar sebulan karena memperoleh informasi tentang kebijakan administrasi Trump di kawasan Timur Tengah pada 2017.

Malik melaporkan kembali ke Badan Intelijen Nasional (NIS) UEA ihwal topik-topik yang menarik soal negaraTeluk, termasuk upaya AS untuk menengahi krisis Teluk yang melibatkan Qatar , serta pertemuan antara pejabat AS dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

"Malik ditugaskan untuk melaporkan kepada para intelijen Emirat tentang topik-topik menarik, seperti sikap administrasi Trump terhadap Ikhwanul Muslimin," kata laporan itu.

Menurut sumber itu, di antara pejabat pemerintah Emirat yang mengawasi Malik adalah Direktur NIS, Ali al-Shamsi.

Al-Shamsi lebih dari sekedar mata-mata. Ia juga seorang utusan yang bijaksana untuk Pangeran Mahkota Emirat Mohammed bin Zayed (MBZ) dan saudaranya, penasihat keamanan nasional UEA, Tahnoun bin Zayed.

"Shamsi dan pemerintah Emirat jelas berpikir dapat mempengaruhi Trump dengan melakukan bisnis dengannya," kata seorang yang memiliki pengetahuan tentang operasi mata-mata UEA.

Pengacara Malik membantah laporan berita itu. Ia mengatakan kepada The Intercept bahwa kliennya bukan agen intelijen.

"Malik tidak pernah `ditugaskan` untuk memberikan informasi tentang cara kerja administrasi Trump," kata pengacara Bill Coffield.

Adalah melanggar hukum bagi siapa pun selain pejabat diplomatik atau konsuler untuk beroperasi di AS atas nama pemerintah asing tanpa terlebih dahulu memberi tahu Departemen Kehakiman AS.

Gedung Putih, CIA, dan Departemen Kehakiman semua menolak memberikan komentar terkait kasus itu. Kedutaan UEA tidak menanggapi permintaan tanggapan.

Laporan Intercept muncul setelah Departemen Kehakiman pekan lalu mengatakan George Nader, pemecah masalah Timur Tengah yang memiliki hubungan dengan Trump, diringkus atas pelecehan seksual anak-anak.

Nader - juga penasihat MBZ - adalah saksi dalam penyelidikan khusus penasihat AS, Robert Mueller tentang kampanye Trump dan diduga ikut campur dalam pemilihan Rusia.