Sabtu, 24/08/2019 20:46 WIB
  • Umum

AS Sanksi Industrialis Suriah Diduga Memperkaya Pemerintah Assad

Rabu, 12/06/2019 08:59 WIB
AS Sanksi Industrialis Suriah Diduga Memperkaya Pemerintah Assad Hotel Four Seasons di pusat kota Damaskus. (Foto: Khaled al-Hariri / Reuters)

Washington, Etoday.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap Samer Foz, seorang industrialis Suriah, karena diduga memperkaya Presiden Bashar al-Assad.

"Oligarki Suriah ini secara langsung mendukung pemerintah Assad yang membunuh dan mendirikan bangunan wahan di tanah yang dicuri dari warga yang melarikan diri dari kebrutalannya," kata Wakil Menteri Keuangan untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, Sigal Mandelker, Selasa (11/6).

Departemen Keuangan AS memasukkan daftar hitam properti Foz dan Perusahaan Aman Holding miliknya termasuk Four Seasons, hotel kelas atas yang tetap beroperasi selama perang saudara yang berlangsung lama di Suriah.

Hotel ini telah menjadi pangkalan bagi karyawan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Suriah, titik kontroversi bagi lawan Assad yang mempertanyakan ke mana uang yang dibayarkan staf internasional mengalir.

ASM International General Trading milik Foz dan afiliasinya di seluruh Timur Tengah juga dimasukkan dalam sanksi. ASM terlibat dalam perdagangan biji-bijian dan gula, dan operasi ladang minyak.

"Samer Foz, kerabatnya, dan kerajaan bisnisnya telah memanfaatkan kekejaman konflik Suriah menjadi perusahaan yang menghasilkan laba," kata Mandelker.

Di bawah sanksi AS, aset Foz mana pun akan dibekukan dan transaksi apa pun atau propertinya dilarang.

Departemen Keuangan mengatakan Foz telah mengirim minyak ke Suriah dari sekutunya Iran, meskipun ada sanksi AS sepihak atas semua ekspor keluar dari Republik Islam.

Dalam pemberitahuan itu, Departemen Keuangan juga mengatakan, Foz mengambil keuntungan dari perintah yang dikeluarkan Assad pada 2012 untuk mengusir penduduk dari daerah yang lebih miskin untuk membuat keuntungan.

"Taktik ini - mengambil alih properti yang dimiliki warga Suriah dan menyerahkan tanah kepada orang dalam pemerintah kaya untuk dikembangkan sebagai imbalan bagi hasil - telah muncul sebagai strategi pilihan Assad untuk rekonstruksi tingkat tinggi di Suriah yang dilanda perang," kata Departemen Keuangan itu.

Langkah itu dilakukan saat Assad, yang didukung militer Rusia, terus melakukan serangan bom berdarah keenam minggu berturut-turut terhadap serangkaian kota dan desa yang dikuasai pemberontak di barat laut Suriah.

Tim penyelamat mengatakan, kampanye udara besar telah menewaskan lebih dari 1.500 orang, dengan lebih dari setengahnya adalah warga sipil.

Sementara itu, lebih dari 300.000 orang telah meninggalkan garis depan di provinsi Idlib, benteng besar yang dikuasai pemberontak terakhir, untuk keselamatan daerah-daerah dekat perbatasan dengan Turki, menurut PBB.

Sepanjang lebih dari delapan tahun konflik, kelompok-kelompok oposisi memerangi pasukan yang setia kepada Assad dalam upaya untuk menggulingkannya setelah pemberontakan damai yang dengan cepat berubah menjadi kekerasan.

Pada 2015, ketika Rusia melakukan intervensi, pasukan Assad mulai mengambil kembali sebagian besar tanah dari faksi-faksi pemberontak bersenjata di seluruh negeri, sementara secara konsisten melanggar perjanjian gencatan senjata dengan meluncurkan serangan di "zona de-eskalasi".

Ratusan ribu tewas sejak konflik Suriah dimulai pada 2011, sementara jutaan lainnya telah diusir dari tanah kelahiran mereka.