Sabtu, 24/08/2019 20:13 WIB
  • Umum

Harga Cabai Mahal, Ekonom Sarankan Rekayasa Kuliner

Senin, 15/07/2019 15:53 WIB
Harga Cabai Mahal, Ekonom Sarankan Rekayasa Kuliner Tampak seorang ibu sedang memesan cabai di salah satu pasar (Foto: Ist)

Jakarta, Etoday.com - Harga cabai masih mahal. Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Rusli Abdullah meminta pemerintah mulai mendorong masyarakat supaya tidak bergantung lagi pada cabai segar.

Menurut Rusli, sudah menjadi kebiasaan selama ini bahwa saat musim panen harga cabai jatuh dan setelah musim panen berlalu harga cabai pun kembali mahal.

Satu sisi cabai merupakan komoditas yang cepat busuk, sehingga tidak akan tahan lama disimpan hingga panen berikutnya.

Karena itu, Rusli mengatakan, untuk menjaga produksi cabai yang melimpah pada musim panen dapat terserap dengan baik, tahan lama dan tetap tersedia meski bukan musim panen, maka sudah saatnya pemerintah memikirkan melakukan rekayasa kuliner.

"Selera kuliner masyarakat kita lebih cenderung menyukai cabai seger yang diulek sendiri di depan mata. Selera seperti inilah yang harus diubah atau rekayasa kuliner," ujar Rusli kepada redaksi, Senin (15/7).

Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian melakukan rekayasa kuliner untuk mengubah selera makan masyarakat agar saat musim panen lewat masyarakat tetap dapat menikmati rasa pedas.

Misalnya membuat produk makanan yang tidak menggunakan cabai seger, tapi menggunakan cabai olahan, seperti bon cabe atau sambal yang sudah diolah dan dibotolkan.

"Cara ini sudah Berhasil di Thailand dan Malaysia," ungkap Rusli.

Selain itu, Rusli juga mendorong penciptaan varietas unggulan yang tahan terhadap perubahan iklim. Menurutnya, permasalahan ini tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga tanaman-tanaman lain.

"Dia lebih kepada bagaimana memproduksi, tapi bagaimana adaptif terhadap perubahan iklim itu kurang optimal di situ," ucapnya lagi.