Sabtu, 24/08/2019 20:32 WIB
  • Umum

Wow, Ekspor Santan Sumsel ke Hongkong, China dan Thailand Meningkat

Minggu, 11/08/2019 08:57 WIB
Wow, Ekspor Santan Sumsel ke Hongkong, China dan Thailand Meningkat Proses pengolahan santan kelapa. (Foto: Ist)

Palembang, Etoday.com - Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengatakan, ekspor santan kelapa asal Sumatera Selatan ke tiga negara masing-masing Hongkong, China dan Thailand tercatat terus meningkat.

Ekspor yang diawali November 2018 ini sampai dengan akhir 2018 tercatat empat kali frekwensi dengan total  228,7 ton santan kelapa senilai ekonomi Rp928 juta. Sementara hingga Juli 2019 telah 16 kali pengiriman ke tiga negara mitra dagang dengan total 758 ton, senilai Rp2,8 triliun.

"Kita apresiasi pelaku usaha yang melakukan ekspor produk pertanian, terutama yang sudah dalam bentuk jadi atau olahan seperti santan ini," kata Jamil saat melepas ekspor santan perdana periode Agustus 2019 sebanyak 79,2 ton tujuan China dan 12,6 ton tujuan Hongkong di Palembang, Sabtu (10/8).

Komoditas olahan asal kelapa bulat ini diekspor dengan total nilai ekonomi Rp1,071 miliar.

Nilai ekonomi ekspor santan dapat memberi nilai tambah sebesar 30 persen dibandingkan dengan ekspor kelapa asal Kabupaten Banyuasin ini dalam bentuk utuh atau kelapa bulat.

"Belum lagi ada tambahan berupa ampas kelapanya yang dapat dimanfaatkan, juga dapat menggerakan roda ekonomi industri," tambah Jamil.

Jamil menjelaskan berdasarkan data lalulintas komoditas pertanian pada IQFAST, ada 12 negara yang menjadi konsumen santan asal Indonesia, termasuk China, Hongkong dan Thailand. Negara tujuan ekspor lain adalah Amerika Serikat, Belgia, Australia, Selandia Baru dan juga Belanda.

Jamil menyebutkan untuk tiga negara masing-masing Australia, Selandia Baru dan Belanda telah diterapkan proses bisnis karantina dengan sertifikat elektronik (e-Cert).

Dengan layanan ini akan ada banyak keuntungan bagi pelaku usaha, selain lebih cepat, e-Cert ini juga menjamin produk dapat diterima sebelum barang datang karena seluruh persyaratan teknis kesehatan dan keamanan komoditasnya telah diperiksa terlebih dahulu.

Jamil mengatakan, sangat penting menggiatkan ekspor produk olahan untuk menggantikan ekspor komoditas pertanian dalam bentuk asli ataupun bibit.

Selain tidak memberi nilai tambah, kedepan dapat juga mengurangi volume ekspor karena sudah dapat dibudidayakan di negara tujuan ekspor. Ini bisa berakibat pada perlambatan ekonomi.

"Kita sudah banyak belajar, sudah saatnya kita mengubahnya. Undang investor jika perlu untuk membangun industri olahan," kata Kepala Barantan.

Selain mendorong ekspor dalam bentuk olahan, Barantan melakukan langkah-langkah strategis lainnya yakni dengan  mendorong tumbuhnya pelaku usaha atau ekspotir dari kalangan muda.

Barantan menggagas program Agro Gemilang, program pendampingan bagi pemenuhan persyaratan ekspor komoditas pertanian.

Selain itu, guna mengantisipasi penurunan pasar global, Barantan juga lakukan kerjasama dengan instansi terkait guna membuka akses pasar ekspor yang lebih beragam.

"Tidak hanya negara tujuan yang sudah biasa, kita perluas ke negara-negara lain dan ini masih sangat luas," ujar Jamil.