Sabtu, 24/08/2019 20:56 WIB
  • Umum

Kemdikbud Siapkan Rp23 Juta per Kelompok MGMP

Rabu, 14/08/2019 12:12 WIB
Kemdikbud Siapkan Rp23 Juta per Kelompok MGMP Direktur Jenderal GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Supriano (Foto: Muti/Jurnas)

Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyiapkan anggaran sebesar Rp23 juta, untuk setiap kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di seluruh kabupaten/kota.

Dana tersebut, menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Supriano, dapat dimanfaatkan untuk setiap kali penyelenggaraan pelatihan, yang mulai tahun ini akan berbasis pada zona.

“Pelatihan berbasis zona ini kita kasih dana stimulus. Besarnya Rp23 juta per kelompok kerja guru. Dikasihnya satu kali. Rp23 juta itu termasuk transportasi dan makan untuk lima kali pertemuan,” kata Supriano usai membuka kegiatan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, di Jakarta, pada Selasa (13/8) malam.

Supriano mengakui, jumlah Rp23 per kelompok guru masih terbilang kecil. Pasalnya, dana tersebut harus dibagi dalam lima kali pelatihan yang dilakukan selama 82 jam, di mana setiap kelompok guru beranggotakan sekitar 20 orang.

Kendati minimnya dana per kelompok guru, Supriano tetap optimistis pelatihan guru berbasis zona akan berjalan sebagaimana yang direncanakan pemerintah.

Dia menyebut, pelatihan guru MGMP yang menggunakan metode 5 in dan 3 on, akan menciptakan knowledge sharing, coorporatitive learning, action research, lesson study, kominikasi, kolaborasi, dan critical thinking.

“Kalau dibayangkan sekarang jumlah zona ada 2.580. Kalau satu zona dikali 10 MGMP mata pelajaran (mapel) akan ada 25.800 MGMP. Kemudian dikali 10 guru saja bisa ada 258.000 guru. Bayangkan kalau dikali 20 guru, akan ada 500.000-an guru yang belajar,” terang Supriano.

Untuk pengawasan, Supriano mengatakan Kemdikbud akan melihat keaktifan guru berdasarkan kehadirannya dalam lima kali pelatihan MGMP. Berbeda halnya dengan pelatihan MGMP sebelumnya yang hanya dilakukan sebanyak satu kali.

Guru yang tidak aktif ketahuan di grup mereka. Kalau sekarang, kontrol bisa dilakukan mereka sendiri,” tutur dia.

Pelatihan dengan metode 5 in dan 3 on menuntut guru untuk terlibat dalam lima kali pelatihan dan tiga kali praktik pembelajaran di kelas. Konsekuensi dari pelatihan ini, menurut Supriano, ialah pemecahan masalah mapel di masing-masing zona akan berbeda satu sama lain.

“Misalnya masalah di sekolah kamu sama masalah di sekolah saya berbeda. Di sekolah kamu masalahnya aritmatika, tapi sekolah saya aljabar. Itu yang kemudian didiskusikan,” tandas dia.