Senin, 16/09/2019 06:57 WIB
  • Umum

PMI di Saudi Mengaku Ditelanjangi, Hartanya Dirampas

Kamis, 15/08/2019 18:19 WIB
PMI di Saudi Mengaku Ditelanjangi, Hartanya Dirampas PMI asal NTB, Sri Hartini

Jakarta, Jurnas.com – Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kejadian memilukan di Riyadh, Arab Saudi.

Sri Hartini, demikian namanya, mengaku telah ditelanjangi dan menjadi korban kekerasan sesama PMI di Kota Riyadh. Tidak hanya itu, harta benda perempuan asal Lombok Timur itu juga dirampas.

Kepada Jurnas.com, Sri Hartini mengungkapkan bahwa nasib buruk itu berawal dari perkenalannya dengan pemilik akun Facebook bernama Oma Najwa. Oma Najwa, yang selanjutnya disebut Norah ini, merupakan pemilik salah satu rumah penampungan di Riyadh.

Setibanya di rumah penampungan, alih-alih mendapatkan pelayanan baik, Sri Hartini mengaku ditelanjangi oleh Norah. Sementara laki-laki yang konon berstatus sebagai suami Norah, sempat memukul bagian perutnya.

“Untung tidak diperkosa,” kata Sri Hartini pada Kamis (15/8).

Perlakuan Norah semakin menjadi-jadi. Uang hasil gajian Sri Hartini selama dua bulan sebesar SAR4000 dirampas. Ponsel hasil kerja kerasnya juga disita.

“Dia juga menipu saya. Dia bilang emas ternyata imitasi,” ungkap dia.

Sri Hartini sempat ingin kabur dari rumah penampungan Norah, lantaran sudah tidak kuat tinggal di tempat itu. Dia bahkan pernah melihat Nuroh menampar temannya hingga darah bercucuran, yang membuat dirinya trauma.

Beruntung, majikan terakhirnya berbaik hati. Sri Hartini diberi kesempatan pergi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Indonesia, untuk menyelesaikan kasus yang dialaminya.

Alhamdulillah majikan mengerti, saya disetopkan taksi dan suruh antar ke KBRI. Saya juga enggak menyangka kalau dia (Norah, Red) adalah petaka bagi saya dan teman lainnya,” tutur Sri Hartini.

Menyikapi kasus tindak kekerasan sesama PMI di Saudi, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Garda Buruh Migran Indonesia (BMI) mendesak KBRI Riyadh agar bekerja sama dengan pihak otoritas Saudi.

BMI berharap kasus ini dituntaskan hingga ke pengadilan, sebab ada indikasi penjualan manusia. Lebih lanjut, BMI juga meminta kepada semua korban untuk tidak takut bila diancam. (Kontributor Saudi/Ahyar)