Kamis, 17/10/2019 15:02 WIB
  • Umum

Pusat Perbelanjaan Hong Kong Jadi Arena Pertikaian Dua Kubu

Minggu, 15/09/2019 07:51 WIB
Pusat Perbelanjaan Hong Kong Jadi Arena Pertikaian Dua Kubu Demonstran anti ekstradisi di Bandara Hong Kong (Foto:Thomas Peter/Reuters)

Jakarta - Pertempuran pecah pada Sabtu di sebuah pusat perbelanjaan di Hong Kong antara pendukung protes yang sedang berlangsung untuk reformasi demokrasi di wilayah semi-otonom Tiongkok dan orang-orang yang mendukung pemerintah Partai Komunis Tiongkok di Beijing.

Ratusan demonstran pro-Beijing menyanyikan lagu kebangsaan China, mengibarkan bendera merah dan meneriakkan slogan-slogan di Amoy Plaza di distrik Kowloon yang padat. Para demonstran yang menentang dengan cepat berkumpul di sana, memicu ketegangan ketika kedua kubu saling mencela.

Situasi berubah kacau ketika kelompok orang bertukar pukulan dan beberapa menggunakan payung untuk memukul lawan mereka. Polisi kemudian pindah untuk meredakan situasi, dengan beberapa orang ditahan.

Bentrokan di tengah liburan festival pertengahan musim gugur datang setelah beberapa malam demonstrasi damai yang menampilkan nyanyian massal di pusat perbelanjaan oleh para pendukung protes pro-demokrasi selama berbulan-bulan.

Ribuan orang juga membawa lentera dengan pesan-pesan pro-demokrasi di tempat-tempat umum dan membentuk rantai manusia yang diterangi pada dua puncak kota pada Jumat malam untuk menandai festival besar Tiongkok.

Para pengunjuk rasa menolak untuk menyerah meski pemerintah Hong Kong berjanji untuk menarik RUU ekstradisi yang memicu protes. Mereka telah memperluas tuntutan mereka untuk memasukkan pemilihan langsung untuk pemimpin mereka dan akuntabilitas polisi.

Banyak yang melihat RUU ekstradisi, yang akan memungkinkan sejumlah tersangka Hong Kong dikirim ke Cina daratan untuk diadili, sebagai contoh otonomi Hong Kong yang mengikis sejak bekas koloni Inggris itu kembali ke pemerintahan Tiongkok pada tahun 1997.

Toko-toko tutup di Amoy Plaza setelah keributan. Suasana tetap tegang ketika pengunjuk rasa pro-demokrasi mencemooh polisi, beberapa di antaranya terlihat memukuli tahanan dengan tongkat untuk menaklukkan mereka. Media lokal menunjukkan pertikaian kecil berlanjut di luar mal ketika orang-orang pergi.