Kamis, 17/10/2019 14:47 WIB
  • Umum

Benarkah Main Game Berpotensi Gangguan Jiwa?

Sabtu, 05/10/2019 07:29 WIB
Benarkah Main Game Berpotensi Gangguan Jiwa? Para pelajar bermain game online (Foto: GB Times)

Jakarta - Pecandu game setelah diteliti otaknya kalau dia terpapar sejak Balita kerusakannya sama dengan pecandu Napza.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan Dr. Fidiansjah, Sp.Kj mengatakan pecandu game berpotensi mengalami gangguan jiwa. Pecandu game sama dengan ketergantungan terhadap Napza.

"Kalau prefrontal cortex belum berfungsi tapi sudah diberi kesenangan game, akibatnya dia merasa adiksi yang menyenangkan akibatnya anak-anak tidak mau belajar. Ini lebih berbahaya daripada psikotropika dan zat adiktif,” ucap dr. Fidi.

Gejalanya paling mudah bisa ditemukan oleh keluarga sendiri. Dapat dilihat dari kebiasaan seperti lebih memilih main game daripada belajar, atau bermain game dalam waktu yang lama.

Upaya Kemenkes dalam menanggulangi masalah tersebut dengan menyosialisasikan penggunaan teknologi dengan cerdas.

Artinya dengan pendekatan edukasi pada orangtua, dan pelajar mengenai penggunaan teknologi sesuai fungsinya, dan menjelaskan bahwa penggunaan teknologi dengan tidak bijak merupakan ancaman dan tantangan.

“Di keluarga harus memulai hal sederhana, misal ada waktu keluarga tanpa hp, misal saat beribadah dan makan,” ujar dr. Fidi.

Sementara itu, terkait upaya mengurangi jumlah ODGJ telantar, Kemenkes telah menekankan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). Ada 12 indikator yang salah satunya adalah setiap ODGJ berat mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar.

“Setiap Pemda harus menyiapkan pelayanan ODGJ dan memberikan pelayanan sesuai standar,” ucap dr. Fidi.

Tak hanya SPM, di level Puskesmas, pelayanan ODGJ telah masuk ke dalam indikator Progran Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK), antara lain gangguan jiwa berat tidak ditelantarkan.

“Setiap wilayah Kerja Puskesmas jika terdapat ODGJ harus diobati dan tak boleh ditelantarkan,” kata dr. Fidi.