Rabu, 11/12/2019 23:56 WIB
  • Umum

Arab Saudi, Israel dan AS di Bawah Tekanan, Iran Lebih Santai

Sabtu, 05/10/2019 08:59 WIB
Arab Saudi, Israel dan AS di Bawah Tekanan, Iran Lebih Santai Foto menunjukkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri), Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (tengah), dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: via Presstv)

Tel Aviv - Harian Israel menyebutkan bahwa aliansi anti-Iran yang dipimpin Amerika Serikat (AS), Israel dan Arab Saudi goyah karena masing-masing sibuk dengan urusan domistiknya masing-masing.

"Tiga pemimpin yang memimpin garis anti-Iran dalam beberapa tahun terakhir masing-masing terserap dalam krisis domestiknya sendiri minggu ini," tulis harian terkemuka Israel Haaretz Kamis (3/10).

Merujuk pada penyelidikan pemakzulan Presiden AS, Donald Trump dan sidang pra dakwaan yang mengancam masa jabatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu minggu lalu adalah tanda bahwa kedua pemimpin terperosok dalam krisis.

Harretz juga menyoroti bahwa kematian misterius pengawal pribadi lama Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud awal pekan ini mempermalukan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.

"Riyadh menuai kecaman dunia baru pada peringatan satu atas pembunuhan brutal jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi," tulis Haaretz.

Menujukkan kemunduran lain Riyadh dalam sepekan terakhir, Haartez juga menyinggung operasi utama Yaman di wilayah utara Najran negara itu terhadap pasukan pimpinan Arab Saudi. Operasi itu menyebabkan kematian sekitar 200 pasukan pimpinan Saudi dan menangkap 2.000 tentara lainnya.

Artikel itu melanjutkan dengan perkembangan internasional terbaru Iran sebagai perbandingan. Ia mengklaim, Negeri Para Mullah mengalami minggu santai meskipun ada tekanan sanksi dan ekonomi AS.

Harretz menulis bahwa Presiden Iran Hassan Rohani menerima sambutan yang antusias di Majelis Umum PBB di New York pekan lalu, menambahkan bahwa Trump merayu Rouhani untuk mengadakan pertemuan dengannya.

Harian itu menambahkan, perkembangan tersebut sangat kontras dengan retorika awal pemerintahan Trump terhadap Iran, saat Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015 tahun lalu dan mengumumkan kampanye kampanye tekanan maksimum melawan Teheran.

Juga menunjuk pada perubahan nada bicara Riyadh terhadap Iran, artikel tersebut menyoroti bahwa putra mahkota Arab Saudi sudah mendesak solusi damai mengenai ketegangannya dengan Iran dalam sebuah wawancara awal pekan ini.

Putra mahkota telah menyatakan bahwa perang dengan Iran akan mengarah pada kehancuran total ekonomi global.

Haaretz mengatakan perkembangan seperti itu terjadi meskipun fakta bahwa Washington dan Riyadh menyalahkan Iran karena berada di belakang serangan drone Yaman 14 September terhadap instalasi minyak Arab Saudi, sebuah tuduhan yang dengan tegas dibantah oleh Teheran.

"Tidak hanya serangan canggih dan destruktif pada fasilitas minyak Saudi bulan lalu berlalu tanpa tanggapan militer dari Riyadh atau Washington, tetapi Arab Saudi bahkan menjelaskan bahwa itu mendukung dialog dengan Teheran," tulisnya.

Putra mahkota Saudi sebelumnya telah dikenal karena retorikanya yang penuh perang terhadap Teheran. Pada Mei 2017, putra mahkota Saudi menuduh Teheran berusaha mendominasi dunia Muslim. Dia berjanji pada saat itu untuk melakukan perang di Iran.