Selasa, 19/11/2019 05:21 WIB
  • Umum

Rouhani: Sanksi AS Merupakan Kejahatan Kemanusiaan

Selasa, 15/10/2019 20:38 WIB
Rouhani: Sanksi AS Merupakan Kejahatan Kemanusiaan Presiden Iran, Hassan Rouhani (Foto: Tehran Time)

Teheran - Presiden Iran, Hassan Rouhani mengecam Amerika Serikat (AS) karena memberlakukan kampanye terorisme ekonomi terhadap bangsa Iran. Ia menyebut, tindakan tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pernyataan itu disampaikan Rouhani pada pertemuan Komite Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mediterania Timur (EMRO) yang ke-66 di Teheran, Selasa (15/10).

Rouhani mengatakan, sangat memalukan bagi AS setelah menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral 2015 yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.

"Aib ini menjadi sangat memalukan bawah perjanjian sudah disahkan Dewan Keamanan PBB dan diakui secara internasional dilanggar AS," kata Rouhani.

"Tidak ada keraguan bahwa pemerintah AS telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Langkah AS adalah tindakan terorisme ekonomi, tetapi itu tidak berarti bangsa Iran telah bertekuk lutut," tambahnya.

Rouhani memuji para ilmuwan, peneliti, pengusaha dan produsen Iran untuk membantu negara itu mengatasi sanksi ekonomi dan meningkatkan tingkat kemandirian di sektor farmasi. Ia mengatakan, Iran saat ini sudah memproduksi lebih dari 95 persen kebutuhan medisnya di dalam negeri.

Secara resmi, sanksi AS membebaskan barang-barang kemanusiaan, seperti obat-obatan dan instrumen obat-obatan. Namun pada kenyataannya, langkah-langkah tersebut membatasi akses Iran ke layanan medis dan kesehatan.

 "As menarik diri dari JCPOA tanpa alasan dan semata-mata di bawah tekanan dari garis keras domestik, Arab Saudi dan rezim Zionis," ujar Rouhani.

Ia menambahkan,  para pejabat di Riyadh dan Tel Aviv telah secara terbuka mengakui bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk mengamankan keluarnya Washington dari Amerika. Kesepakatan Iran.

Kepala eksekutif Iran menekankan, sanksi Gedung Putih melanggar Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB, yang mendukung kesepakatan Iran.

Ia mengatakan Iran tidak akan pernah melupakan "pengkhianatan umat manusia" yang dilakukan oleh sanksi-sanksi ini "yang membuat AS kalah dalam politik dan etika."